Sejak duduk
dibangku SMA aku sudah memunyai sisi lain yang mampu membuat wanita bertekuk
lutut dihadapanku, bahkan menjadi salah satu laki laki yang layak direbutkan disekolah
ku dulu. Kini aku tlah duduk dibangku kuliahan, tidak jauh berbeda saat aku SMA,
ditingkat pendidikan tertinggi ini, aku masih saja menjadi objek idaman wanita
wanita dikampusku. Hari hariku penuh selfie dengan wanita, BBMku penuh chat
godaan, Instagramku penuh likes saat aku mengapload foto foto pribadiku.
Menurutku hal itu adalah hal yang biasa. Suatu kelebihan yang diberikan tuhan
untuk aku sikapi sebaik mungkin.
dulu, aku suka sekali
berpetualang dari cinta yang satu ke cinta yang lainnya. Pacaran dan putus
adalah hal yang biasa bagiku. Sekarang, aku bukanlah sosok pribadi yang ingin
menjalin cinta hanya karna “ kamu cantik “ , “ kamu seksi “, dan “ kamu kaya “.
Sosokku yang sekarang sangatlah berbeda. Aku tak memperdulikan siapapun yang
mengejarku. Karna aku ingin mengartikan cinta lebih dari kata “ I love you “ .
bukan seperti romeo dan juliet, tapi seperti aku dan kamu. Sosok buram yang tlah
disiapkan tuhan untukku. Ehm...mungkin
ini adalah mimpi yang konyol, tapi bagaimana lagi. ini adalah mimpiku, mimpi
dari seorang Rico Dwi Sandi.
Pagi ini, aku bertemu sosok
buram itu. Namanya Lina. Mahasiswi akutansi yang pernah sekelompok denganku saat
OSPEK dulu. Saat pertama kali bertemu dengannya, mataku tak luput dari kontak
matanya. kilau matanya, mengalahkan hatiku. Pagi ini, aku ingin mencurahkan
perasaanku yang terpendam sejak OSPEK dulu. Dikursi taman alun alun malang. Aku
mulai bersyair.
Rico : “ lina, saat
aku bertemu denganmu dulu, Saat itu aku sudah jatuh cinta padamu, entah kamu
sadari atau tidak, inilah perasaanku lina. Saat itu hatiku selalu bertanya “
bisakah aku mencintaimu? “ ya, “ bahkan aku sangat mencintaimu lina“. Setiap
malam, aku selalu bertanya pada hatiku “ apakah aku mencintai seseorang “, ya,
kamu mencintai lina. “apakah aku merasakan kehadiran cinta sejatiku “, ya..
kamu merasakannya, bahkan lebih dekat dari hatimu. Kamu selalu memujanya. Dia
yang namanya selalu kamu sebut tanpa kamu sadari “ Lina...Lina....Lina..... “.
“ apakah dia adalah orang selalu ada dalam hidupku “ ya, dia selalu ada. Bahkan
ketika kamu terlelap. Dia selalu ada. Bahkan ketika kamu bahagia. Dia selalu
ada. Bahkan ketika kamu menangis. Dia selalu ada dalam hidupmu. Bagaimana
mungkin aku bisa menghadapi segala jawaban yang selalu mengarah padamu Lina ?
bagaimana mungkin ? bahkan aku selalu menyakinkan diriku, ketika hati mulai
bertanya “ apakah dia sosok yang mau menemanimu ketika suka duka ? ya, aku
jawab iya. Tanpa alasan sekalipun. “ apakah dia mau menerimamu apa adanya ? “.
Ya, aku jawab iya. Tanpa ragu sekalupun lina. Aku berharap, kamu mau mengerti,
betapa aku mencintaimu. I love you, I love you, I love you very very much lina.
Lina : “ apakah
kamu sebegitu cintanya denganku, rico ?
“
Rico: “ ya, bahkan
setiap waktu lina. Kamu bisa menganggap ini cinta atau kegilaanku, tapi
ingatlah satu hal. Tidak ada pecinta sekalipun yang mampu mengambil jalan
seperti ini. “
Lina : “
hem....gimana ya rico......aku sudah mencintai seseorang “
Rico : “ hehehehe...tidak
apa apa lina....bukankah cinta tak harus memiliki...setidaknya aku sudah
mengungkapkan perasaanku. “
Lina : “ udah gitu
aja....kamu gak mau nanya, siapa orangnya gitu ? “
Rico : “ hah (
menghelak nafas ) , walaupun aku penasaran siapa orang yang berhasil merebut
hatimu, tapi aku tak ingin terlalu tau akan hal itu, biarlah waktu yang memberi
tahuku lina“
Lina : “ orang itu
kamu rico, kamu.....”
Rico : “ apa...?
kamu bisa ulang lagi lina ? “
Lina : “ katanya
gak mau tahu hahahahaha, yaudah aku ulang lagi tapi dengerin ya ? “
Ric0 : “ siap lina
“
Lina : “ orang itu
kamu rico, cuman kamu......kamu yang aku cintai saat ini “
Sejak saat itu aku dan lina
resmi berpacaran. Aku dengan kesibukanku sebagai mahasiswa aktif organisasi,
dan dia dengan kesibukannya. Kita saling percaya antara satu sama lain. Kita
selalu berbagi kisah ketika hal hal lucu datang dan hinggap dalam kesibukan
kita masing masing, kita saling berbagi rindu meski dalam via sms atau media
sosial lainnya. Kita merahasiakan hubungan ini dengan yang lainnya. Hanya satu
orang yang tau, dia adalah sahabat karibnya lina. Cintya. Aku tidak terlalu
kenal dengan sahabat karibnya itu, tapi hatiku berkata “ dia orang yang baik “.
Mungkin kamu akan bertanya
bagaimana seorang seperti ku bisa mencintai lina... aku akan menjawabnya melalu kisah singkat dimasa
lalu........
Berawal
dari Masa OSPEK disebuah Perguruan Tinggi ternama dikota malang, Aku dan lina
memulai komunikasi ini, komunikasi awal yang jelas tersimpan dalam ingatanku
adalah saat dia meminta tolong padaku untuk membantunya mengurus perlengkapan
OSPEK Kelompoknya. Dengan begitu manja ia berkata “ rico tolong aku, aku takut
kalau aku tak mampu menyelasaikan ini, aku takut jika karna aku mereka dihukum
esoknya. Aku mohon.....” pada awalnya, aku ingin sekali mengacukannya karna aku
juga masih memunyai tanggung jawab tersendiri yang belum aku selesaikan, tapi
laki laki mana yang sanggup melihat kontak matanya yang begitu manja dan indah.
Aku pun menganggukkan kepalaku dan berkata “ baiklah lin, apa boleh buat. Aku
tak bisa menolaknya “.
Akhirnya
akupun membantunya, semalaman suntuk aku mempersiapkan semuanya sebaik mungkin,
aku sepenuhnya tak mengerti mengapa aku tidak bisa menolaknya saat itu. Tubuh ini
bergerak begitu saja. Orang bilang hal seperti ini adalah cinta pada pandangan
pertama, mungkin. Hanya orang bodoh sepertikulah yang tidak menyadarinya.
Esok harinya,
ia menungguku dihalaman kampus. Dipagi buta itu aku melihatnya benar benar
sangat berharap padaku. saat aku datang, dia tersenyum. Lalu merapikan dasiku yang agak miring, dan berkata “ terima
kasih rico “. Entah mengapa, Ada keanehan yang kurasa saat ia tersenyum padaku,
keanehan yang membuatku seolah olah nyaman ada didekatnya. Sejak saat itu komunikasi aku dan lina
semakin dekat. Bahkan 3 hari masa OSPEK, aku selalu memperhatikannya. Aku tidak
perduli dengan sekelilingku, aku ingin kenyamanan ini berlangsung begitu lama.
Saat
ini, sudah 3 bulan aku berpacaran dengan Lina. Wanita cantik yang tlah khilaf
memilih laki laki sepertiku. hingga suatu hari, aku harus merelakan dia pergi
dari kenyamanan yang terlanjur aku
rasakan saat bersamanya. Cinta ku dan dia terpaksa berakhir karna kebodohanku.
Aku sangat bodoh, membiarkan hasrat ku bermain api dibelakangnya. Berawal dari
sebuah taruhan, kisah cintaku hancur seketika. Mungkin semua orang kan
menyalahkan ku, tapi aku sadar akan semua itu. Cinta ini semakin rumit. Tidak sedikit pun aku benar benar mencintai
wanda, wanita cantik yang dikabarkan
dekat denganku. Memang benar, aku dekat denganya, tapi itu karna sebuah
taruhan. Bukan karna aku mencintai wanda. Dalam hatiku, aku hanya mencintai
lina. Didekatnya, aku merasa dia selalu ada setiap detik, setiap menit,
sepanjang waktu. Hatiku hanya mencarinya.
Bukan wanita lain. Saat itu aku
berusaha keras untuk membujuknya kembali padaku. tapi aku selalu gagal
menggapainya kembali. Jalankan berbicara denganku, melihatku pun dia seolah
muak akan sikapku yang terlihat bajingan didepannya. Kata yang tak mampu
kuangkapkan hanya mampu aku tulis dalam sebuah kertas putih, berharap dia akan
membacanya.
Bersambung.........
Ditulis oleh Jare Bang Ocir

No comments:
Post a Comment