Wednesday, 13 January 2016

Perkara Cinta Tanpa Syarat

Penulis: Btari Durga
Cinta tidak pernah pudar. Dia hanya berubah bentuk. Dari sangat cinta menjadi tidak terlalu cinta. Tapi cinta tidak pernah benar-benar pergi. Dia adalah salah satu materi yang keras kepala. Tak peduli diusir seperti apa pun, dia tak pernah benar-benar mau pergi. Aku pernah melihat dua orang yang saling meneriakkan kata cinta dalam keadaan marah. Lalu ada yang lain, saling melontarkan cinta dalam tangis. Aneh memang, karena cinta sedianya dan seharusnya terlontar dalam kebahagiaan dan suka cita, bukan dalam kemarahan dan kesedihan.

Banyak yang menghujat cinta karena dia selalu datang dengan pengorbanan. Seperti dewa-dewi yang harus diberi sesajen dan persembahan, cinta tak pernah datang tanpa syarat. Lalu bagaimana dengan apa yang sering disebut sebagai “cinta tanpa syarat’…? Bullshit! Cinta selalu datang dengan sederet syarat. Tidak boleh begini. Tidak boleh begitu. Harus begini. Harus begitu. Selonggar-longgarnya batasan yang diberikan, syarat adalah syarat. Maka marilah kita hentikan semua omong kosong tentang ‘cinta tanpa syarat’ itu. Cinta selalu berpamrih. Ketika seseorang mencintai, maka harapannya adalah dia akan dicintai. Tidak ada yang pernah mau menanam cinta tanpa berharap akan dicintai. Bahkan orang tua sekali pun akan tetap berharap anak-anaknya mencintai mereka. Tidak memaksa, namun tetap berharap. Tak ada cinta yang tak berpamrih. Eksistensi ‘cinta tanpa syarat’ adalah situasi ideal yang nyaris tidak mungkin ada pada realitaku.
Lalu pada suatu malam aku berbincang dengan seseorang.

“Apakah kamu percaya pada yang dinamakan cinta tanpa syarat?” aku bertanya. Awalnya sekedar iseng.
“Ya. Idealnya cinta memang seharusnya tanpa syarat, tapi apakah ada yang bisa melaksanakannya? Aku rasa tidak.” Begitu dia menjawab pertanyaanku.
Aku diam sejenak, lalu bertanya lagi “Ketika kamu mencintai seseorang, bukankah jauh di lubuk hatimu kamu berharap cintamu akan berbalas?”
Dia menatapku sejenak, “Tidak…” jawabnya. Aku menatapnya lurus-lurus. Tak percaya pada apa yang baru saja aku dengar.
Really??” tanyaku tajam dengan intonasi penuh ketidakpercayaan. “Wouldn’t you be hurt when the feeling is not mutual?” lanjutku lagi.
“Ketika aku mencintai seseorang, aku mengikat diriku kepadanya tapi tidak mengikat dirinya kepadaku. Dengan demikian, hanya aku yang bisa memutuskan ikatan itu…” dia menjelaskan sambil menyalakan sebatang rokok.
Aku masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. “Tapi tetap saja intinya ada pengharapan bahwa rasa itu berbalas, bukan?” sanggahku dengan keras kepala.
“Tentu saja. Naturally. Tapi rasa sakit dan rasa kecewa yang dirasakan akan berbeda.” Ujarnya lagi. dahiku berkerut mendengar penjelasan ini.
“Kebanyakan orang merasa sakit ketika cintanya tak berbalas karena mereka mengikat orang yang mereka cintai itu ke diri mereka, bukan sebaliknya. Ketika mereka mengikat orang itu, kedua-duanya bisa memutuskan ikatan yang ada… tapi jika hanya mereka yang mengikatkan diri mereka kepada orang yang dicintai, maka hanya mereka sendiri lah yang bisa memutuskan ikatan itu…” dia meneruskan penjelasannya sambil menatapku. Aku mengerti sekaligus tidak mengerti.
Can you stop me from loving you?” tanyanya. Aku menggeleng, “No.”
Can I stop you from loving me?” tanyanya lagi. Aku pun lagi-lagi menggeleng, “No.” Dia tersenyum. “Well, unless you did something that really… utterly pissed me off.” Aku segera meralat jawabanku.
Lagi-lagi dia tersenyum, “Itu berarti ketika kamu mengikatkan dirimu kepadaku, kamu menetapkan beberapa syarat…” katanya. Aku tersenyum. Tentu saja. Don’t we all? – aku membatin sendiri. Hence, there’s no such thing as ‘unconditional love’ –  aku meneruskan dalam hati.
Lalu perbincangan terhenti begitu saja. Aku pun kembali sibuk dengan laptopku. Dia kembali sibuk dengan laptopnya.
Do you believe in unconditional love?” tiba-tiba dia bertanya.
“I used to.” Jawabku pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopku. Namun aku bisa merasakan sorot matanya mengawasiku. Biarlah…

No comments:

Post a Comment

 

@Copyright2015 Design By Bang Ocir