![]() |
| Penulis: Btari Durga |
Cinta tidak pernah pudar. Dia hanya berubah bentuk. Dari sangat cinta
menjadi tidak terlalu cinta. Tapi cinta tidak pernah benar-benar pergi. Dia
adalah salah satu materi yang keras kepala. Tak peduli diusir seperti apa pun,
dia tak pernah benar-benar mau pergi. Aku pernah melihat dua orang yang saling
meneriakkan kata cinta dalam keadaan marah. Lalu ada yang lain, saling
melontarkan cinta dalam tangis. Aneh memang, karena cinta sedianya dan
seharusnya terlontar dalam kebahagiaan dan suka cita, bukan dalam kemarahan dan
kesedihan.
Banyak yang menghujat cinta karena dia selalu
datang dengan pengorbanan. Seperti dewa-dewi yang harus diberi sesajen dan
persembahan, cinta tak pernah datang tanpa syarat. Lalu bagaimana dengan apa
yang sering disebut sebagai “cinta tanpa syarat’…? Bullshit! Cinta
selalu datang dengan sederet syarat. Tidak boleh begini. Tidak boleh begitu.
Harus begini. Harus begitu. Selonggar-longgarnya batasan yang diberikan, syarat
adalah syarat. Maka marilah kita hentikan semua omong kosong tentang ‘cinta
tanpa syarat’ itu. Cinta selalu berpamrih. Ketika seseorang mencintai, maka
harapannya adalah dia akan dicintai. Tidak ada yang pernah mau menanam cinta tanpa
berharap akan dicintai. Bahkan orang tua sekali pun akan tetap berharap
anak-anaknya mencintai mereka. Tidak memaksa, namun tetap berharap. Tak ada
cinta yang tak berpamrih. Eksistensi ‘cinta tanpa syarat’ adalah situasi
ideal yang nyaris tidak mungkin ada pada realitaku.
“Apakah kamu percaya pada yang dinamakan cinta tanpa syarat?” aku bertanya.
Awalnya sekedar iseng.
“Ya. Idealnya cinta memang seharusnya tanpa syarat, tapi apakah ada yang
bisa melaksanakannya? Aku rasa tidak.” Begitu dia menjawab pertanyaanku.
Aku diam sejenak, lalu bertanya lagi “Ketika kamu mencintai seseorang,
bukankah jauh di lubuk hatimu kamu berharap cintamu akan berbalas?”
Dia menatapku sejenak, “Tidak…” jawabnya. Aku menatapnya lurus-lurus. Tak
percaya pada apa yang baru saja aku dengar.
“Really??” tanyaku tajam dengan intonasi penuh ketidakpercayaan. “Wouldn’t
you be hurt when the feeling is not mutual?” lanjutku lagi.
“Ketika aku mencintai seseorang, aku mengikat diriku kepadanya tapi tidak
mengikat dirinya kepadaku. Dengan demikian, hanya aku yang bisa memutuskan
ikatan itu…” dia menjelaskan sambil menyalakan sebatang rokok.
Aku masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. “Tapi tetap saja intinya
ada pengharapan bahwa rasa itu berbalas, bukan?” sanggahku dengan keras kepala.
“Tentu saja. Naturally. Tapi rasa sakit dan rasa kecewa yang
dirasakan akan berbeda.” Ujarnya lagi. dahiku berkerut mendengar penjelasan
ini.
“Kebanyakan orang merasa sakit ketika cintanya tak berbalas karena mereka
mengikat orang yang mereka cintai itu ke diri mereka, bukan sebaliknya. Ketika
mereka mengikat orang itu, kedua-duanya bisa memutuskan ikatan yang ada… tapi
jika hanya mereka yang mengikatkan diri mereka kepada orang yang dicintai, maka
hanya mereka sendiri lah yang bisa memutuskan ikatan itu…” dia meneruskan
penjelasannya sambil menatapku. Aku mengerti sekaligus tidak mengerti.
“Can you stop me from loving you?” tanyanya. Aku menggeleng, “No.”
“Can I stop you from loving me?” tanyanya lagi. Aku pun lagi-lagi
menggeleng, “No.” Dia tersenyum. “Well, unless you did something
that really… utterly pissed me off.” Aku segera meralat jawabanku.
Lagi-lagi dia tersenyum, “Itu berarti ketika kamu mengikatkan dirimu
kepadaku, kamu menetapkan beberapa syarat…” katanya. Aku tersenyum. Tentu
saja. Don’t we all? – aku membatin sendiri. Hence, there’s no such
thing as ‘unconditional love’ – aku meneruskan dalam hati.
Lalu perbincangan terhenti begitu saja. Aku pun kembali sibuk dengan
laptopku. Dia kembali sibuk dengan laptopnya.
“Do you believe in unconditional love?” tiba-tiba dia bertanya.
“I used to.” Jawabku pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar
laptopku. Namun aku bisa merasakan sorot matanya mengawasiku. Biarlah…


No comments:
Post a Comment