Aku bingung mau mulai ini dari mana, dan sejak kapan aku
ingin memulainya. Yang aku tau
pasti adalah jawaban kamu nanti saat aku bilang aku sayang kamu. Kamu pasti
menolaknya dan kamu acuhkan aku lagi seperti saat aku menyakitimu dulu. Aku
sadar aku hanyalah seorang lelaki yang suka mempermainkan wanita ,
melecehkannya dan meninggalkan mereka pergi dengan kata " aku mulai bosan,
aku tak sanggup menjalani hubungan ini. Aku ingin putus !! " lalu aku
pergi tanpa memberi kabar, berpura pura tanpa ada yang harus dijelaskan dan
kembali dengan wanita yang lebih cantik dari mereka. Kamu pun tau bagaimana aku
yg sebenarnya, kamu mengenalku dan memahamiku. Kamulah yang mengajarkanku
bagaimana aku harus berubah. Menunjukkan jalanku dan menemaniku dalam
kegelapan. Kamu seperti mentari yg membakar diri untuk sang bulan dalam
menghias dunia malam. Kita tak pernah bertemu, tapi kamu menyapaku dengan
kehangatan. Itulah kamu, yang selalu ada untukku. Terkadang aku ingin kamu
mengerti perasaanku yang sebenarnya. Aku sayang kamu karna budimu , aku cinta
kamu karna imanmu , aku tak suka cewe jelek kayak kamu tapi cewe kayak kamulah
yang ingin kuukir dalam garis takdirku. Aku pernah datang kerumahmu,
mengetuknya tiga kali. Dan ayahmu lah yg membukakan pintu untukku. Dia sangat
cerewet. Menanyaiku seperti maling yg lagi mengincar celana dalam putrinya. Dia
berkumis tipis dan berpawakan gagah yang membuat nyaliku kecil untuk mengajakmu
keluar. Aku gagap saat itu. Dan Aku melihat 1,2,3 ekor anjing pudle yg sangat
seram diruang tamu rumahmu. Lidahnya yg panjang bikin bulu kuduk ku merinding.
Aku lupa jika ayahmu penyanyang anjing. Aku takut. Aku berkeringatan dan aku
pamit pulang. Dari pada aku mati konyol karna cinta yang sudah pasti kamu
menolaknya. Lebih baik aku pergi dengan hati yang tertinggal saat itu. Tapi aku
bukan pencundang. Aku tetap mencari kesempatan untuk menjadikanmu kekasih
hatiku. Aku pejuang. Aku tidak berbicara apakah aku akan menjadi pahlawan dalam
hidupmu nanti. Aku hanya berbicara bagaimana aku memerdekakan kamu dari ayahmu,
anjing itu dan rumah serammu itu. Tentu bukan dengan cara perang aku menaklukan
ayahmu. Aku lebih suka genjatan senjata. Melalui jalur diplomatik aku berjuang.
Aku berusaha keras belajar untuk lulus kuliah dengan nilai terbaik, mencari
pekerjaan yang layak, lalu aku datang dihadapan ayahmu dengan konfrensi meja bundar
ala anak muda jaman sekarang. dimana aku, ibuku,ayahku dan kerabatku ada disitu
serta ayahmu yg menjadi pimpinan sidangnya. Jika gagal pun aku akan mengajukan
banding. Sampai kamu merdeka dan menjadi tanahku bercocok tanam serta menjadi
ibu pertiwi bagi anak ku dan cucuku cucuku. Itu hebat bukan. Itu masih
rencanaku aja sih,toh aku masih mahasiswa. Masih pengen jadi mahasiswa nakal
yang baik. Jadi maafkan aku jika itu cuman rencana. Tapi percayalah aku sangat
bersungguh sungguh untuk cintaku. Untuk hari ini esok dan seterusnya.
Dear : Bang Ocir

No comments:
Post a Comment